
Hi!Pontianak – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Hary Agung Tjahyadi, menyebutkan angka kematian ibu dan bayi sepanjang tahun 2022 menurun, jika dibandingkan 2021.
Dalam bidang kesehatan, kata Hary, pihaknya melihat dalam berbagai aspek indikator, salah satunya adalah indikator utama, yakni angka kematian ibu dan bayi. Lalu ada juga indikator yang berpengaruh besar, adalah masalah status gizi, yakni stunting.
“Untuk angka kematian ibu dan bayi, sepertinya linier dengan kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Kita lihat bahwa angka kematian ibu tahun 2021, itu di angka 214 per 100 ribu kelahiran. Untuk tahun 2022, sampai hari ini angkanya 120 per 100 ribu kelahiran,” jelas Hary kepada awak media, Sabtu, 31 Desember 2022.
Jika dilihat dari jumlah kematian absolutnya, di tahun 2021 terdapat sebanyak 183 kasus kematian ibu, sedangkan di tahun 2022 kasus kematian ibu menurun menjadi 109 angka kematian.
“Sedangkan untuk angka kematian bayi, tahun 2021 8 per 1.000 kelahiran hidup. Tahun 2022 5,2 per 1.000 kelahiran hidup,” papar Hary.
Sedangkan angka absolutnya adalah terdapat sebanyak 616 angka kematian bayi di tahun 2021, dan angka kematian bayi ini menurun di tahun 2022 yakni berjumlah 522 kematian. Jika diartikan, di tahun 2022 atau dalam masa transisi pandemi COVID-19 banyak ibu yang melahirkan bayi.
“Angka ini menunjukkan peluang usia harapan hidup orang yang lahir di tahun 2022 lebih tinggi dibandingkan 2021,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, Hary menyebutkan dalam bidang kesehatan indikator kesejahteraan khususnya di bidang kesehatan dapat dilihat dari IPM.
“IPM kita ini kan ada 3 indikator, kesehatan pendidikan dan ekonomi. Di kesehatan jika melihat rilis BPS tahun 2021, IPM Kalbar sebesar 70,76. Dan di tahun 2022 yang dirilis akhir tahun inu menjadi 71,02. Ada peningkatan untuk IPM di bidang kesehatan,” tukasnya.
Sumber: Kumparan








