Teraspojok.com, JAKARTA — Memasak bukan sekadar rutinitas menyiapkan asupan nutrisi. Bagi banyak orang, dapur adalah ruang terapi untuk memulihkan jiwa.
Mulai dari memoar Elizabeth Gilbert dalam Eat, Pray, Love hingga film-film ikonik Hollywood lainnya, aktivitas mengolah makanan sering digambarkan sebagai cara ampuh mengatasi trauma dan stres. Ternyata, pandangan ini didukung kuat oleh penjelasan para ahli kesehatan mental dan nutrisi.
Aktivitas kreatif seperti memasak dan memanggang roti terbukti berkaitan langsung dengan peningkatan kesejahteraan mental. Penelitian tahun 2016 dari University of Otago, Selandia Baru, menemukan bahwa orang yang mencoba resep baru cenderung merasa lebih antusias dan mengalami pertumbuhan emosional positif dalam keseharian mereka.
Memasak, memikirkan makanan, bahkan sekadar melihat proses pengolahannya, disebut memiliki kekuatan untuk menenangkan batin. Kecenderungan ini mencapai puncaknya saat pandemi Covid-19, ketika banyak orang beralih ke dapur untuk mengusir kesedihan dan mengisi waktu yang seolah berhenti. Namun, apakah sains sepakat bahwa memasak benar-benar bisa menyembuhkan kita? Berikut penjelasannya:
1. Kekuatan kreativitas dalam setiap takaran
Penelitian tahun 2016 dari University of Otago, Selandia Baru, yang diterbitkan dalam Journal of Positive Psychology, menemukan kaitan langsung antara aktivitas kreatif seperti memasak dengan peningkatan kesejahteraan mental. Setelah mengamati ratusan mahasiswa selama 13 hari, para peneliti menemukan bahwa mereka yang mencoba resep-resep baru merasa lebih antusias dan mengalami pertumbuhan emosional yang positif.
Psikiater bersertifikat di New York, dr Sudhir Gadh, mengatakan memasak adalah bentuk meditasi aktif. “Tindakan memasak dan kemampuan menyiapkan makanan itu sendiri adalah sebuah tindakan sakral. Anda melakukannya dengan hati-hati dan fokus. Anda tidak melakukannya sambil mengerjakan hal lain; Anda memasukkan perhatian dan cinta ke dalamnya,” ujarnya dikutip dari laman Huffington Post pada Senin (5/1/2026). Fokus yang dibutuhkan untuk mengukur bahan, memotong sayuran, atau memantau suhu api memungkinkan pikiran kita memblokir gangguan luar yang memicu stres dan kecemasan.
2. Kesadaran penuh dan hubungan taktil
Berbeda dengan hobi lain seperti merajut atau mewarnai, memasak memberikan stimulasi sensorik yang lengkap, mulai dari aroma yang menggoda, tekstur bahan, hingga hasil akhir yang bisa dinikmati. Penulis buku Becoming Who You’re Meant to Be, Kimberly Lou, mengatakan aktivitas seperti memanggang roti (baking) sangat menenangkan karena sifatnya yang taktil. “Baking menuntut perhatian penuh, terutama saat Anda melakukan gerakan tangan yang repetitif,” ujarnya.
Loading…








