
MAUMERE-Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo mengaku malu karena data stunting pada 5 kecamatan di Kabupaten Sikka masih tinggi.
"Harusnya kamu yang di 5 kecamatan ini merasa malu nanti setelah itu, saya dengan wakil bupati malunya kemudian," ungkap Bupati Robi Idong saat membuka pertemuan publikasi data stunting di Kabupaten Sikka tahun 2022 yang dilaksanakan di Aula Sikka Convention Center (SCC), Senin (5/12/2022).
Ia mengungkapkan perasaannya tersebut setelah mengetahui data yang disampaikan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka yang mencatat hasil operasi timbang tahun 2022 terkait data prevalensi tertinggi ada di lima kecamatan yang ada di Kabupaten Sikka.
Lima kecamatan tersebut yakni Kecamatan Waiblama-Puskesmas Tanarawa, Kecamatan Tanawawo-Puskesmas Wolofeo, Kacamatan Magepanda-Puskesmas Magepanda, Kecamatan Kangae-Puskesmas Waipare dan Kecamatan Talibura-Puskesmas Boganatar-Watubaing.
Menurut Bupati dari kelima Puskesmas tersebut bobot paling tinggi ada pada Kecamatan Waiblama, yaitu dari Puskesmas Tanarawa.

"Data prevalensi tertinggi ada pada Puskesmas Tanarawa senilai 33,5%," ungkap Bupati Sikka.
Dengan data yang disampaikan tersebut ia mengharapkan kerja sama semua pihak di Kecamatan untuk menangani masalah stunting.
Pada kesempatan itu, Bupati Robi Idong juga memberi apresiasi kepada 5 kecamatan lain yang pravelensi stunting terendah yaitu, Kecamtan Nelle, Kecamatan Koting, Kecamatan Palue, Kecamatan Lela, dan Kecamatan Paga.
Pravelensi stunting terendah berdasarkan hasil operasi timbang tahun 2022 ada di Puskesmas Nelle dengan angka 0,2%.
"Kita harus memberi apresiasi untuk kerja keras yang diraih di Kecanatan Nelle, Ini harus contoh untuk yang lain," ujar Bupati Sikka.
Untuk diketahui, pertemuan publikasi data stunting di Kabupaten Sikka tahun 2022 dihadiri oleh para kepala desa, camat, Dinas Kesehatan Sikka, Bapelitbang Sikka dan beberapa unsur perangkat daerah lainnya.
Sumber: Source link








