Jokowi: Ekosistem Kendaraan Listrik Memberikan Masa Depan Cerah

Presiden Joko Widodo di peresmian Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Ultra Fast Charging. Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Presiden Joko Widodo di peresmian Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Ultra Fast Charging. Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Presiden Jokowi bicara soal kian moncernya kendaraan listrik di pasar dunia. Jokowi yakin bahwa ekosistem kendaraan listrik punya masa depan cerah karena saat ini hampir seluruh negara di dunia membutuhkan kendaraan listrik.

"Kita harap nantinya jadi ekosistem kendaraan listrik yang ke depan memberikan masa depan cerah," ujar Jokowi dalam HUT ke-50 PDIP, Selasa (10/1).

Tapi untuk masuk ke dalam pasar tersebut, Jokowi menyebut Indonesia harus bisa menjadi ekosistem baterai listrik terlebih dahulu. Ini akan memberikan nilai tambah untuk masuk ke pasar kendaraan listrik.

Niat membangun ekosistem inilah yang menurut Jokowi jadi dasar pemerintah memutuskan menutup ekspor mentah komoditas nikel. Tujuannya supaya nikel yang Indonesia punya bisa diolah dalam negeri menjadi baterai listrik.

Ia meminta agar jajaran menterinya tak gentar kendati kalah gugatan oleh Uni Eropa di World Trade Organization (WTO). Menurut Jokowi, pemerintah akan melakukan banding atas hasil perkara perdagangan internasional itu.

“Problemnya adalah kita digugat Uni Eropa, nikel kita digugat Uni Eropa dan sudah diputuskan kita kalah. Tapi saya sampaikan ke Bu Menteri Luar Negeri, jangan mundur,” ujar Jokowi.

Jokowi menilai bahwa ekspor nikel nanti akan menjadi lompatan besar di era kendaraan listrik. Namun, Jokowi menyebut tak ada lagi upaya yang bisa dilakukan jika nantinya banding yang diajukan Indonesia kalah.

“Tapi itulah sebuah perdagangan yang kadang-kadang menekan sebuah negara agar mereka ikut aturan mana yang dibuat negara-negara besar. Sehingga kalau hanya ekspor barang mentah sampai kiamat kita hanya akan jadi negara berkembang,” tegas Jokowi.

Mantan Gubernur DKI memastikan Indonesia tak akan berhenti melarang ekspor bahan mentah ke negara lain. Ia menegaskan, Indonesia akan konsisten menggalakkan industrialisasi dalam negeri.

Jokowi menekankan, penyetopan ekspor bahan mentah dan membangun industri sendiri di dalam negeri akan menjadi lompatan besar peradaban Indonesia. Meski kalah dalam gugatan di WTO, Indonesia tak akan mundur.

"Inilah yang ingin kita lakukan, berdikari. Berdikari. Berdikari," pungkasnya.



Sumber: Kumparan