
Jayapura, BUMIPAPUA.COM– Jembatan gantung Sungai Digoel di Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua Pegunungan menjadi akses utama bagi warga 3 distrik yakni Distrik Iwur, Distrik Tarup dan Distrik Oksibil.
Jembatan gantung yang keseluruhannya terbuat dari akar rotan ini memiliki panjang 40 meter yang membentang di atas Sungai Digoel yang arusnya cukup kencang. Dan ujung dari jembatan di sebelah menyebelah, diikat di pohon.
Selain menghubungkan 3 distrik di Pegunungan Bintang, jembatan gantung tersebut juga menghubungkan Kabupaten Boven Digoel di Provinsi Papua Selatan. Tak heran jembatan ini menjadi akses satu-satunya penghubung warga hingga menjadi urat nadi ekonomi masyarakat setempat.
Sabtu (28/1/2023), warga Distrik Iwur dikagetkan dengan putusnya jembatan gantung. Persitiwa terjadi saat rombongan TNI Polri hendak melakukan kunjungan ke pos aparat keamanan di Distrik Iwur. Ada dugaan jembatan tak layak lagi digunakan dan kelebihan muatan. Dalam kejadian ini, 4 orang personel TNI Polri hilang terbawa arus Sungai Digoel. Dari 5 hari pencarian, terdapat 2 korban yang ditemukan dengan kondisi tak bernyawa. Sisanya, 2 orang personel Polres Pegunungan Bintang yang belum ditemukan.

Beberapa kali, TNI Polri sempat memperbaiki jembatan tersebut agar tetap bisa digunakan sebagai penunjang aktivitas. Namun, saat ini jembatan sama sekali tak bisa digunakan dan menyebabkan akses warga pada 3 distrik lumpuh.
Dandim 1715/Yahukimo Letkol Inf Johanis Victorianus Tethool menjelaskan jembatan gantung yang melintang di Sungai Digoel merupakan akses penting yang digunakan masyarakat untuk perputaran perekonomian.
"Kami selalu ingatkan anggota untuk memperhatikan kelayakan jembatan, guna mengatasi kesulitan masyarakat pengguna jembatan," ujarnya.
Marthen, warga setempat menjelaskan walaupun saat ini pondasi jembatan permanen sudah dibangun, besi jembatan juga sudah terlihat di sekitar lokasi pembangunan, namun belum diketahui kapan jembatan permanen akan dibangun.
Daerah 3T

Distrik Iwur dan Tarup menjadi daerah terisolir di Kabupaten Pegunungan Bintang. Distrik Tarup misalnya menjadi daerah yang berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini (PNG). Sementara di bagian barat distrik tersebut berbatasan dengan Distrik Waropko di Kabupaten Boven Digoel.
Andi, salah satu warga Oksibil mengungkapkan warga Distrik Iwur sangat bergantung dengan jembatan gantung Sungai Digoel. Andi bilang pemerintah berencana membangun jembatan permanen di daerah ini. Namun hingga saat ini belum terealisasi.
"Bagian atas jembatan berbatasan Sungai Digoel yang juga masuk dalam wilayah jalan trans Papua," katanya.

Andi menjelaskan di Distrik Iwur ada sejumlah sungai yang lebarnya hampir sama dengan Sungai Digoel, sehingga perlu dibangun jembatan untuk memudahkan akses warga.
"Jika jembatan-jembatan ini sudah terhubung, otomatis Jalan Trans Papua yang menghubungkan Kabupaten Pegunungan Bintang dan Kabupaten Boven Digoel jalur darat otomatis jalur terhubung," katanya.

Untuk diketahui akses dari Oksibil, ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang ke jembatan gantung ditempuh dengan perjalanan darat 3 jam. Lalu, dari jembatan gantung ke Distrik Iwur ditempuh dengan jarak 4 kilometer.
"Dari jembatan gantung ke Distrik Iwur menggunakan ojek dengan ongkos Rp 50 ribu. Para tukang ojek berasal dari pemuda kampung setempat," kata Andi.
Urat Nadi Ekonomi

Marthen, warga setempat berkisah jembatan gantung menjadi sarana penting bagi warga setempat untuk aktivitas sehari-hari. Jembatan gantung selalu dilewati warga untuk menjual hasil kebunnya ke pasar terdekat.
"Tapi, karena jembatan sekarang rusak, maka masyarakat tak bisa menjual hasil panennya. Aktivitas ekonomi masyarakat juga terhenti," Marthen berujar.
Dulunya, warga di Distrik Iwur punya cara yang unik untuk mengirimkan bahan pokok (bapok) melintasi Sungai Digoel. Masyarakat memanfaatkan tali dari arah berlawanan untuk penyeberangan bapok. Tak heran, harga bapok di Distrik Iwur dan sekitarnya bisa mencapai 2-3 kali lipat dari harga di Oksibil.
Sumber: Kumparan








